Showing posts with label Al Quran. Show all posts
Showing posts with label Al Quran. Show all posts

Monday, August 6, 2012

Hukum Belajar Ilmu Tajwid

Hukum Belajar Tajwid

Hukum belajar ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Kalau ada dalam suatu tempat ada seseorang yang menguasai ilmu ini maka bagi yang lainnya tidak menanggung dosa, kalau sampai tidak ada maka seluruh kaum muslimin menanggung dosa.

Sedangkan membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah wajib ‘ain artinya bagi seorang yang mukalaf baik laki-laki atau perempuan harus membaca Al Qur’an dengan tajwid, kalau tidak maka dia berdosa, hal ini berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan ucapan para ulama.

1. Dalil-dalil dari Al Qur’an
1. Firman Allah Azza wa Jalla:
وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً
“…dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil.” (Al Muzzammil: 4)
Maksud tartil itu adalah membaguskan huruf dan mengetahui tempat berhenti, keduanya ini tidak akan bisa dicapai kecuali harus belajar dari ulama atau orang yang ahli dalam bidang ini, dan perintah ini menunjukkan suatu kewajiban sampai datang dalil yang bisa merubah arti tersebut.

2. Firman Allah Azza wa Jalla:
الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُوْلَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Baqarah: 121)

Dan mereka tidak akan membaca dengan sebenarnya kecuali harus dengan tajwid, kalau meninggalkan tajwid tersebut maka bacaan itu menjadi bacaan yang sangat jelek bahkan kadang-kadang bisa berubah arti. Ayat ini menunjukkan sanjungan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang membaca Al Qur’an dengan bacaan sebenarnya.

3. Firman Allah Azza wa Jalla:
وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً
Dan kami membacanya dengan tartil (teratur dengan benar).” (Al Furqan: 32)
Ini adalah sifat Kalamullah, maka wajib bagi kita untuk membacanya dengan apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla.

2. Dalil-dalil dari As Sunnah
1. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya bagaimana bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab bahwa bacaan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu dengan panjang-panjang kemudian dia membaca:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
memanjangkan (bismillah) serta memanjangkan (ar rahmaan) dan memanjangkan ar rahiim.” (HR. Bukhari)

2. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat agar mengambil bacaan dari sahabat yang mampu dalam bidang ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mintalah kalian bacaan Al Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah para sahabat yang mulia, padahal mereka itu orang-orang yang paling fasih dalam pengucapan Al Qur’an masih disuruh belajar, lalu bagaimana dengan kita orang asing yang lisan kita jauh dari lisan Al Qur’an?

3. Dan dalil yang paling kuat sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur ketika Ibnu Mas’ud menuntun seseorang membaca Al Qur’an. Maka orang itu mengucapkan:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ
Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu katakan, “Bukan begini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat ini kepadaku.” Maka orang itu jawab, “Lalu bagaimana Rasulullah membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?” Maka beliau ucapkan:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ
Dengan memanjangkannya. (HR. Sa’id bin Mansur)

Ibnu Mas’ud langsung menegur orang ini padahal ini tidak merubah arti, akan tetapi bacaan Al Qur’an itu adalah suatu hal yang harus diambil sesuai dengan apa yang Rasulullah ucapkan.

3. Ijma’
Seluruh qura’ telah sepakat tentang wajibnya membaca Al Qur’an dengan tajwid.


Fatwa Para Ulama Dalam Permasalahan Ini
1. Fatwa Ibnu Al Jazary
Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu beribadah dalam upaya memahami Al Qur’an dan menegakkan ketentuan-ketentuannya, beribadah dalam pembenaran lafadz-lafadznya, menegakkan huruf yang sesuai dengan sifat dari ulama qura’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Annasyr 1/210)

2. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Adapun orang yang keliru yang kelirunya itu tersembunyi (kecil) dan mungkin mencakup qira’at yang lainnya, dan ada segi bacaan di dalamnya, maka dia tidak batal shalatnya dan tidak boleh shalat di belakangnya seperti orang yang membaca السِّرَاطَ dengan ‘sin’, pergantian dari الصِّرَاطَ, karena itu qira’at yang mutawatir. (Majmu’ Fatawa 22/442 dan 23/350)

Dari fatwa ini bisa kita ambil kesimpulan:
1. Tidak selayaknya seorang yang masih salah dalam bacaan (kesalahan secara tersembunyi) untuk menjadi imam shalat, lalu bagaimana dengan yang mempunyai kesalahan yang fatal seperti yang tidak bisa membedakan antara س dengan  ث atau  د dengan ذ, yang jelas-jelas merubah arti.

2. Secara tidak langsung Syaikhul Islam telah mewajibkan untuk membaca Al Qur’an dengan tajwid karena kesalahan kecil itu tidak sampai merubah arti, beliau melarang untuk shalat di belakangnya, lalu bagaimana dengan kesalahan yang besar.

3. Fatwa Syaikh Nashiruddin Al Albany
Ketika ditanya tentang perkataan Ibnul Jazary tersebut di atas, maka beliau mengatakan kalau yang dimaksud itu sifat bacaannya di mana Al Qur’an itu turun dengan memakai tajwid dan dengan tartil maka itu adalah benar, tapi kalau yang dimaksud cuma lafadz hurufnya maka itu tidak benar. (Al Qaulul Mufid fii Wujub At Tajwid, hal. 26)

4. Fatwa Asy Syaikh Makki Nashr
Telah sepakat seluruh umat yang terbebas dari kesalahan tentang wajibnya tajwid mulai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai zaman sekarang ini dan tidak ada seorang pun yang menyelisihi pendapat ini. (Nihayah Qaul Mufid hal. 10)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Panduan Praktis Tajwid & Bid’ah-bid’ah Seputar Al Qur’an serta 250 Kesalahan dalam Membaca Al Fatihah, penulis: Al Ustadz Abu Hazim bin Muhammad Bashori, penerbit: Maktabah Daarul Atsar, Magetan. Hal. 33-38.


Audio MP3 pembahasan materi di atas,


DOWNLOAD
sumber: Tasjilat Daarul Atsar Magetan

Belajar Tajwid

Pengertian Tajwid Tajwid menurut bahasa berasal dari kata yangng berarti bagus atau membaguskan. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an maupun bukan.

Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf(tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf(hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani. Inilah yang dimaksud dengan membaca al-Qur’an dengan tartil sebagaimana firman-Nya



yang artinya : “Bacalah al-Qur’an itu dengan tartil”. Sedangkan arti tartil menurut Ibn Katsir adalah membaca dengan perlahan-lahan dan hati-hati karena hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap al-Qur’an. Area Download
Ukuran file : 3,6 Mb
Format : exe
Download : Link 1 atau Link 2 (link sudah diperbaiki)

Catatan: Ada beberapa yang perlu diluruskan dari software di atas, yaitu hukum idghom bilaghunnah. Seharusnya dibaca dengan “tanpa” dengung, sedangkan software di atas prakteknya dibaca dengan dengung. Wallahu’alam

 
PEDOMAN DAURAN AL-QURAN

Metode yang asasi dan asli dalam mempelajari Al Quran adalah dengan metodeTalaqqi yaitu mempelajari Al Quran melalui seorang guru secara langsung atau berhadap-hadapan, dimulai dari surat Al-Fatihah sampai An-Naas. Mengingat terbatasnya jumlah orang-orang yang menguasai Al Quran terutama dalam hal tilawah, maka ulama ahli qiraat meletakkan kaidah-kaidah cara membaca yang baik dan benar yang disebut dengan tajwid. Buku karya Abdul Aziz Abdur Rauf ini diharapkan bisa membantu kaum muslimin dalam mempelajari ilmu tajwid secara aplikatif dan mampu mempraktikkan tilawah dengan shahih. Berikut ini materi-materi yang terdapat dalam buku ini: Pengantar Ilmu Tajwid – menjelaskan definisi ilmu tajwid, hukum mempelajari, keutamaan mempelajari, tujuan mempelajari, dan sebagainya.

Download File MP3 Kajian membahas ilmu tajwid lengkap 

http://www.ilmoe.com/3263/14310608-1-ilmu-tajwid-al-muqoddimah-al-jazariyyah-sesi-i-mp3.html 

http://www.ilmoe.com/3265/14310608-2-ilmu-tajwid-al-muqoddimah-al-jazariyyah-sesi-ii-mp3.html 

http://www.ilmoe.com/3267/14310608-3-ilmu-tajwid-al-muqoddimah-al-jazariyyah-sesi-iii-mp3.html 

http://www.ilmoe.com/3337/14310609-3-ilmu-tajwid-al-muqoddimah-al-jazariyyah-sesi-iv-al-ustadz-muhammad-naim-lc-mp3.html 

http://www.ilmoe.com/3338/14310609-4-ilmu-tajwid-al-muqoddimah-al-jazariyyah-sesi-v-al-ustadz-muhammad-naim-lc-mp3.html 

http://www.ilmoe.com/3339/14310610-1-ilmu-tajwid-al-muqoddimah-al-jazariyyah-sesi-vi-al-ustadz-muhammad-naim-lc-mp3.html 

http://www.ilmoe.com/3340/14310610-2-ilmu-tajwid-bacaan-surah-al-fatihah-al-ustadz-muhammad-naim-lc-mp3.html

http://www.ilmoe.com/2812/tajwid-sesi-1-mp3.html

Tempat-tempat Keluarnya Huruf & Sifat-sifatnya – dalam bab ini dijelaskan tempat-tempat keluarnya huruf dan sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap huruf hijaiyah. Dengan dilengkapi gambar tempat-tempat keluarnya huruf dan latihan, semoga pembaca dapat memahami gambaran dan pemahaman pengucapan huruf yang baik dan benar. Hukum Nun Mati dan Tan win – bab ini menjelaskan bagaimana membaca nun mati atau tan win ketika bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah menurut riwayat yang masyhur. Hukum Mim Mati – bab ini menjelaskan bagaimana membaca mim mati ketika bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah menurut riwayat yang masyhur.

Hukum Mim dan Nun bertasydid – bab ini menjelaskan bagaimana membaca mim dan nun yang bertasydid. Hukum Alif Lam – bab ini menjelaskan bagaimana membaca alif lam ketika bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah. Hukum Mad – bab ini menjelaskan bagaimana dan kapan sesorang harus memanjangkan bacaan dalam Al Quran dengan kadar-kadar tertentu, misalnya 2,4, atau 6 harakat.

Tafkhim dan Tarqiq – bab ini menjelaskan bagaimana dan kapan seorang pembaca Al Quran harus menebalkan dan menipiskan suara ketika membaca huruf-huruf isti’la, huruf ra’, dan lafzh al jalalah. Idgham Mutamatsilain, Mutajanisain, dan Mutaqaribain – bab ini menjelaskan hukum idgham dan pembagiannya berdasarkan tempat-tempat keluarnya huruf. Waqof & Pembagiannya -bab ini menjelaskan bagaimana cara berwaqaf ketika membaca Al Quran, pembagian waqaf dan tanda-tanda waqaf yang terdapat dalam Al Quran standar.

Istilah-istilah Dalam Al Quran – bab ini menjelaskan beberapa istilah dan ayat-ayat gharib dalam Al Quran dan cara membacanya menurut riwayat yang masyhur, dimana keberadaannya cukup jarang di dalam Aquran sehingga tidak sedikit para pembaca Al Quran yang tidak mengetahuinya. Hamzah Qatha’ dan Hamzah Washal – bab ini menjelaskan beberapa kaidah praktis membaca hamzah di dalam tilawah Al Quran, mengingat sebagian besar pembaca Al Quran belum menguasai kaidah bahasa arab dengan baik.

Download klik disini Ebook/PDF Buku Panduan Tahsin Tilawah Al Quran 
***
Download Aplikasi: Belajar Tajwid


 
FILE CADANGAN :



Berikut ini adalah software belajar praktis ilmu tajwid. Ada tiga buah file. EXE dan SWF adalah file flash untuk belajar tajwid. Dengan file exe kita bisa mainkan dengan double klik file tersebut dan voila.. dia akan muncul… Namun untuk file SWF anda bisa memainkannya di browser anda (internet explorer, mozilla firefox, opera, dll). Sementara untuk file PDF bisa anda cetak dengan printer di sebuah kertas kemudian dibaca, atau bisa dibaca lewat PDF viewer, seperti Adobe Acrobat PDF Reader. 




Silahkan download, dinikmati dan belajar tajwid! Semoga bermanfat! Attachment:TAJWID.EXEAttachment: TAJWID.pdf Attachment: Tajwid.

Sumber : pustaka islam

Sunday, June 17, 2012

Tafsir Al-’Alaq (1): Menerka Tali Kematian



(Gambar dari: musyafucino.wordpress.com)
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. Yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” (QS. Al Alaq : 15-16)
Nasiyah dalam Qur’an sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan padanan “ubun-ubun”. Ubun-ubun sering diasosiasikan sebagai bagian depan kepala manusia. Namun, apakah benar nasiyah yang dimaksud adalah ubun-ubun yang selama ini kita kenal? Beberapa fenomena menunjukkan, manusia yang ubun-ubunnya penyok akibat kecelakaan masih tetap bertahan hidup sampai sekarang. Atau, jika kita melukai ubun-ubun singa, yang ada hanya tergoreslah kepalanya. Singa masih mampu bertahan hidup.
Kerancuan mengenai terjemahan nasiyah ini menjadi bahasan Diskusi Tafsir Ilmiah pada Jumat lalu. Dr. Sony Heru Sumarsono dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) ITB menjadi pembahas utama untuk memaknai nasiyah dalam sudut pandang Biologi. Turut hadir pula Ustadz Aceng dari Divisi Pelayanan Dakwah (DPD) Salman ITB sebagai peninjau dari segi bahasa.
Dari segi bahasa, Ustadz Aceng menekankan pentingnya mengkaji makna haraf (kata depan) yang mengawali sebuah kata.  Kemudian, Aceng menjelaskan kata “ba” sebagai kata depan yang mendahului kata nasiyah (“bin nasiyah”) mengisyaratkan makna nasiyah sebagai pusat kesadaran manusia.
Makna yang bisa mendukung bahwa nasiyah ini mempunyai pusat kesadaran ialah musohabah yang artinya disertai. Dari makna ini, dapat disimpulkan bahwa apabila anggota badan manusia berbuat dosa, maka jidat ikut disiksa. Kemudian, apabila mkana ba diberi arti ta’wid, yaitu pengganti, maka makna ini mengisyaratkan apabila ketika nggota tubuh berbuat dosa, maka yang akan menerima siksaannya adalah jidat. Jadi, jidat bertanggung jawab terhadap perbuatan dosa yang diperbuat anggota badan lainnya. Berdasarkan makna di atas, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa nasiyah itulah yang menjadi pusat perintah dari semua organ tubuh.
Kepala Merupakan Tali Kematian?
Dalam slide presentasinya, Sony Heru memaparkan ayat-ayat dalam tiga surat mengenai ubun-ubun. Di antaranya adalah Surat Al-‘Alaq (96):  15-16 (Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka), Surat Ar-Rahmaan (55): 41 (Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka), dan Surat Hud (11): 56 (Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun, melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus ).
Apabila merujuk pada Surat Al-‘Alaq dan Surat Ar-Rahman, Allah menarik serta memegang ubun-ubun orang-orang yang durhaka dan berdosa. Namun, jika merujuk pada Surat Hud, dijelaskan tidak ada suatu binatang melata pun, melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Mengacu pada footnote Qur’an terjemahan miliknya, Sony menganggap binatang melata adalah segenap makhluk Allah yang bernyawa. Jadi, Allah memegang ubun-ubun semua makhluk bernyawa, tak terkecuali yang manusia yang beriman atau pun durhaka.
Jika mendengar term ubun-ubun, kebanyakan orang Indonesia biasanya membayangkan sebuah area di atas permukaan kepala bagian depan. Dalam istilah biologi, area tersebut dinamakan fontanel anterior. Pada saat bayi lahir, tulang tengkorak—termasuk fontanel anterior saling tumpang tindih dengan tulang-tulang tengkorak lain sehingga ukuran kepalanya kecil. Namun, jika telah dewasa, tulang-tulang tersebut saling merenggangkan diri sehingga ukuran kepala pun besar. Ubun-ubun orang dewasa merujuk pada pengertian ubun-ubun pada saat bayi.
Terdapat kecenderungan, manusia menganggap bahwa ubun-ubun adalah kelemahan dari tubuh kita. Oleh karena itu, manusia menganggap kepala harus dilindungi, baik dengan memakai pengikat kepala yang sederhana, blangkon, maupun helm. Jadi, jika kepala kita dipotong, ditembak,  atau digantung, sudah dapat dipastikan bahwa kita akan mati.
Pertanyaannya, apakah orang yang ubun-ubun di kepalanya penyok karena kecelakaan masih bisa hidup? Steven Cloak dari Inggris, walaupun kepala bagian depannya penyok rupanya masih tetap dapat hidup. Cloak, terluka setelah dia dipukul oleh temannya yang mabuk bir. Kepala Cloak pun mengalami luka serius dan harus mendapat banyak jahitan. Dokter bedah harus bekerja kerjas untuk menyusun keping demi keping tulang tengkorak Cloak. Cloak sembuh. Namun jidatnya membentuk lubang besar. Ajaibnya, Cloak masih tetap hidup. Allah SWT masih belum mencabut “ubun-ubunnya”.
Kematian Bisa Datang dari Sebab Apapun
Kemudian, Sony mencontohkan singa yang memiliki surai yang melingkari kepalanya. Bukan tanpa alasan Allah menciptakan surai tersebut di area yang spesifik pada singa. Pada bagian leher, surai bulu tumbuh dengan lebat. Hal ini dikarenakan karena leher merupakan bagian vital dari  tubuh singa yang bisa menyebabkan kematian jika terluka. Jika singa bertarung, lawannya sulit menggigit leher karena terhalang surai lebat yang tumbuh di sekitar lehernya. Namun, apabila bagian kepala sang singa diserang, ia hanya akan mengalami luka-luka.
Rupanya, terdapat kelemahan makhluk hidup yang lain selain kepala. Urat leher. Pembuluh darah pada leher berfungsi  untuk mensuplai darah ke otak. Jika leher kita terluka, proses penyaluran darah ke otak akan terhambat. Nutrisi bagi otak pun tidak ada.
Sony berpendapat, jika “ubun-ubun” mengarah pada hubungan makhluk hidup dengan Allah, tampaknya “ubun-ubun” bermakna “tali kematian”. Lokasinya tidak pasti. Menurut Sony mungkin saja “ubun-ubun” sebagai tali kematian itu memang letaknya berada di kepala. Namun, kurang tepat jika letaknya berada di depan kepala seperti yang selama ini sudah banyak diamini. Sony meyakini jika medulla oblongata merupakan bagian otak paling mungkin untuk dikatai sebagai “tali kematian”. Medulla oblongata ialah salah satu bagian dari batang otak yang merupakan titik awal saraf tulang belakang. Bagian ini mengontrol fungsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
Definisi dari kematian sendiri, yang telah disepakati dalam ilmu kedokteran adalah ketidakadaan sinyal listrik pada otak. Menurut Sony, orang yang mati suri kemungkinan masih memiliki medulla oblongata yang berfungsi walaupun anggota tubuh lain tidak. Jika kepala manusia diputus, koordinasi antara otak dan organ-organ tubuh lain pun ikut putus. Otak pun tak bisa lama sendiri hidup karena otak memerlukan suplai oksigen melalui darah dari jantung. Jika jantung turut berhenti berdenyut, maka lama kelamaan otak akan kekurangan oksigen dan mati.
Beberapa hewan memiliki keunggulan tertentu. Keunggulan tersebut adalah ketika hewan tersebut dipotong kepalanya, seluruh anggota tubuhnya masih tetap hidup dalam waktu yang lebih lama dibanding manusia. Contohnya entog. Jika entog disembelih dan sayapnya tidak ditali, akan sangat memungkinkan bahwa ia akan terbang tanpa kepala walaupun lama-lama kelak akan mati. Mereka memiliki ganglion-ganglion yang saling berikatan satu sama lain. Ganglion dapat mengendalikan organ-organ tubuh bagian bawah tanpa bantuan kepala hewan tersebut.  Jadi, Sony menyimpulkan, tali kematian hewan-hewan tersebut mungkin terletak pada ganglion.
Walaupun Sony cenderung menyimpulkan bahwa “ubun-ubun” alias tali kematian manusia terletak pada medulla oblongata, sebenarnya terdapat fenomena kematian lain yang bukan disebabkan oleh non-fungsi dari otak. Terdapat penyebab lain yang dapat mengakibatkan manusia mati. Misalnya, ginjalnya rusak atau paru-parunya tidak berfungsi lagi. Sony kemudian mengambil contoh kasus wafatnya Menteri Kesehatan beberapa waktu yang lalu, Endang Rahayu. Baik jantung, ginjal, serta otak dari Endang masih bisa berfungsi. Endang bahkan sempat membuat email beberapa saat sebelum kematiannya. Paru-parunya lah yang tidak berfungsi sedemikian mestinya.
Hal tersebut menunjukkan betapa kuasanya Allah mencabut nyawa kita dengan beragam rupa. Yang jelas, Sony berpendapat “ubun-ubun” merupakan tali nyawa kita dengan Allah. Namun, Allah lebih berkuasa atas penentuan nasib kita. Apakah Allah akan mencabut nyawa kita dengan mematikan fungsi otak, fungsi jantung, atau fungsi ginjal—semuanya terserah padaNya.
Bukan Satu Organ Tubuh
Diskusi tafsir ilmiah ini kemudian menyimpulkan,  nasiyah (“ubun-ubun”) fungsinya mirip dengan qalbu. Qalbu (sering diterjemahkan sebagai “hati”) bukan satu organ tubuh yang bekerja sama satu sama lain sehingga manusia bisa merasakan sesuatu. Qalbu dalam konteks alquranan bukanlah jantung (heart) ataupun hati (liver), namun suatu sistem perasaan.
Begitu pun dengan “ubun-ubun” yang melibatkan seluruh organ tubuh. Orang lain bisa saja memegang kepala Anda, tetapi ia tidak bisa memegang tali kematian Anda. Hal ini karena ia tidak tahu letak tali kematian Anda. Bisa saja Allah tarik tali kematian manusia lewat jantung yang berhenti berdetak. Sehingga, perdebatan mengenai posisi “ubun-ubun” seharusnya tidak perlu kian berlarut. Tuhan dapat mematikan kita dengan cara apapun.
Sony berpendapat, pelajaran yang dapat kita ambil setelah menelaah ayat mengenai “ubun-ubun” adalah sadar apabila hidup kita selalu diawasi Tuhan. Allah dapat menarik “ubun-ubun” Anda kapan saja. Anda tidak memiliki waktu untuk mengelak. Sepatutnya, kita dapat mengambil pelajaran dari QS. Al-Mu’minuun ayat 99-100. Dalam dua ayat tersebut, kaum musyrikin yang sudah dihisab amal perbuatannya meminta agar dikembalikan kembali ke dunia. Tujuannya, tentu untuk berbuat saleh setelah dikembalikan ke dunia. Namun, Allah tidak memberi kesempatan macam itu.
“Anda tidak dapat menerka berapa lama Anda hidup di muka bumi ini. Jadi berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Asal diimbangi dengan kecerdikan sehingga Anda tidak mudah ditipu orang,” pungkas Sony.***
Posted: 11 Jun 2012 11:47 PM PDT
Tafsir Al-’Alaq (1): Menerka Tali Kematian from Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami

Monday, May 14, 2012

Quran Pun Bisa Jadi Penawar Schizophrenia

(Foto dari: psychcentral.com)

     Kecemasan hanyalah salah satu dari sekian banyak penyakit jiwa. Dalam skala kecil, rasa cemas menimbulkan paranoid. Misalnya, ketika kita duduk di sebuah kursi, kita merasa di bawah kursi itu ada benda yang dapat membahayakan kita. Padahal benda yang dimaksud tidak ada. Selanjutnya kita akan mencari tempat yang aman dan nyaman menghindari kursi itu.

      Yang lebih parah lagi ketika rasa cemas itu menimbulkan halusinasi. Anda akan mewaspadai orang-orang yang ada di sekitar anda. Anda yakin merasa ada yang selalu mengikuti padahal sama sekali tidak ada. Semua manusia punya kesempatan sama untuk menderita sakit jiwa dari cemas ini.
Berbagai ikhtiar dilakukan untuk menyembuhkan penderita gangguan jiwa. Mulai dari mendatangi psikiater, memasukannya ke panti rehabilitasi, bahkan sampai mendatangi orang pintar. Namun, tahukah anda kalau Quran bisa menjadi penyembuh gangguan mental? Ir. Gunawan membuktikannya. Beliau pernah mengidap penyakit schizophrenia dan sinusitis. Kedua penyakit tersebut bisa disembuhkan berkat ketekunannya membaca dan melantunkan Quran dengan baik dan benar.

     “Orang sakit jiwa karena ada emosi yang tidak tersalurkan. Rasio dikalahkan oleh keinginan,” ujar Gunawan saat ditemui di rumahnya di Arcamanik pada Ahad, (29/4).
Dulu, Gunawan sering disakiti secara fisik oleh ibunya. Itulah yang menyebabkan Gunawan mengidap penyakit mental tersebut. Berkat ketekunannya membaca Quran dengan baik dan benar selama tujuh tahun, penyakit schizophrenia yang beliau derita bisa disembuhkan. Gunawan kini normal bekerja sebagai kontraktor dan menjadi konsultan penyembuhan penyakit fisik dan psikis dengan Quran.
Menurut Gunawan, Quran dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, tidak hanya penyakit jiwa seperti cemas saja. “Baca saja al-Quran. Mau jelek, mau bagus suaranya yang penting terpenuhi panjang pendeknya (harkatnya),” jelas Gunawan.

     Gunawan berkata, dengan mengaji seseorang tidak akan merasakan apapun. Sedih, senang, cinta, semua perasaan itu akan dinetralkan oleh energi yang terkandung dalam ayat-ayat Quran.
“Kalau dibaca terus menerus Al-Quran itu dengan baik dan benar bisa ketagihan,” ujar Gunawan. Namun, yang harus diperhatikan, Al-Quran dapat menyembuhkan bila ada kesadaran. “Orang gila itu sudah sulit disembuhkan. Orang gila tidak tahu emosinya itu apa.”

     Dilihat dari sudut pandang apapun, Quran hanyalah kitab bacaan. Pertanyaannya, adakah hubungan sesuatu yang dibaca terhadap kesehatan jiwa dan fisik kita? Apa hubungan energi Quran dengan penyembuhan penyakit jiwa/cemas? Kalau kita perhatikan, ada hubungan antara tindakan yang kita lakukan dengan pikiran kita. Tindakan yang kita lakukan disesuaikan dengan kondisi emosi dan dan jiwa yang ada.
Gunawan menambahkan, apa yang dipikirkan seseorang untuk suatu tindakan yang ia lakukan sebanding dengan komposisi emosi dan jiwanya. Dengan menggunakan alat-alat yang ada di tubuh kita mulai dari, mulut, lidah, tenggorokan, paru-paru, mata, nafas, jiwa, dan otak serta seluruh jasad, kita melantunkan ayat-ayat Quran. Tujuannya jelas– untuk mengekspresikan komposisi emosi yang ada dalam jiwa kita. Melalui membaca dan melantunkan ayat-ayat Quran akan keluar getaran dan dengungan gelombang bunyi.

     Getaran dan gelombang bunyi itu terasa menggetarkan dan merelaksasi syaraf-syaraf halus di sekitar kepala dan menjalar ke tulang belakang sampai ekor. Setelah proses ini berjalan sekitar 15-30 menit, akan terasa hasil instan. Lepasnya tekanan jiwa karena gumpalan-gumpalan emosi yang ada menjadi tercairkan dan teralirkan dan hancur kembali ke alam.

     Seperti apapun komposisi buruk yang ada, dengan membaca dan melantunkan Quran secara benar, jiwa akan menjadi tenang. Hal ini ibarat setelan mesin yang ada akan menjadi normal setelah di-tune up.
Gunawan menyarankan, apabila setelah membaca Quran, minumlah air mineral. Pada kondisi fisik dan psikis seperti ini, pola penyerapan dan metabolisme tubuh ada dalam keadaan optimum.***


Friday, April 13, 2012

Sabar, Salat, dan Khusyuk


“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', “ QS Al Baqarah(2):45


Sering banget ya, kita baca atau dengar ayat ini. Tapi, pernahkah Anda memikirkan, sabar dan salat yang bagaimana yang bisa menolong? Apa itu khusyuk?
Simak QS Al Imran ayat 146 berikut
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”

Jadi, apa itu sabar? Sabar adalah tidak lemah, tidak lesu, dan tidak menyerah. Kontradiksi dengan pemahaman sebagian besar orang saat ini.  Mereka mengartikan sabar dengan sikap menerima dan  pasrah.
Lalu, salat yang bagaimana yang bisa menyelamatkan kita? Wah, kalo yang ini terlalu berat teman, belum saatnya saya membahas itu. Hehehe...
Langsung meluncur ke khusyuk aja deh. Apa itu khusyuk? Apakah Anda akan menjawab tenang, ngga grusah grusuh? Lalu apa bedanya dengan tuma’ninah?
Coba lihat ayat berikut:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. QS Al Baqarah(2):45-46
Jadi khusyuk itu, yakin bahwa akan menemui Tuhannya, dan akan kembali kepadaNya.
Semoga kita bisa mejadi orang – orang yang khusyuk dan sabar. Aamiin


Monday, March 26, 2012

Alhamdulillah

Assalamualaikum

Alhamdulillah, unit Al Quran di mushala KM3 sudah bertambah. Mudah-mudahan Al Quran yang diwakafkan menjadi amal jariyah bagi yang mewakafkannya.

Bagi ikhwan yang ingin belajar baca Al Quran bareng-bareng, atau bagi temen-temen yang sudah lancar dan ingin menyumbangkan ilmunya, ayo dateng ke tahsin rutin KM3 di rudis, setiap hari Jumat dari Magrib sampai Isya.

Ditunggu ya, makasih.

Friday, January 27, 2012

Keutamaan Membaca Al Qur’an

Keutamaan Al-Qur’an yang terbesar adalah Al Quran merupakan kalam Allah Swt. Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah. Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori).

Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa’at baginya pada hari Kiamat. Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dengan firmanNya: “…. Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha:123)
Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah Saw selalu membaca Al-Qur’an. Beliau juga suka mendengarkan bacaan dari sahabatnya, khususnya sahabat Ibnu Mas’ud. Beliau berlinang air matanya bila membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, seperti yang dikisahkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud: Suatu ketika Rasulullah Saw meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah saya membacakan untukmu, padahalAl-Qur’an diturunkan kepadamu?”. Dijawab nabi Saw: “Saya ingin mendengar dari orang lain”. Ibnu Mas’ud berkata, ”Maka saya bacakan surat An Nisa hingga sampai pada ayatFa kaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahidin waji’na bika ’ala ha’ula’i syahiida” (Bagaimanakah jika Kami telah mendatangkan untuk setiap ummat saksinya dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas semua ummat itu). Nabi bersabda, “Cukuplah sampai di sini”. Saya menoleh melihat nabi SAW sedang bercucuran air mata.“ {HR. Bukhari dan Muslim}.
Sahabat Rasulullah Saw juga selalu membaca Al-Qur’an. Ketika mereka menemukan ayat yang berkaitan dengan azab Allah, mereka membacanya berulang-ulang hingga berlinang air mata. Abu Bakar ra, jika beliau menjadi imam ketika sholat, maka akan terdengar isakan tangis beliau. Suatu ketika seorang sahabat ingin ke pasar mendapati Asma binti Abu Bakar membaca salah satu ayat diulang-ulang sambil menangis. Ketika sahabat tersebut kembali dari pasar, ia masih membaca ayat yang sama sambil menangis. Itulah sikap Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur’an. Kita sebagai ummat dan sebagai generasi penerusnya berusaha untuk bersikap seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur’an.
Berikut beberapa Keutamaan membaca Al Quran Menurut Beberapa Ayat Suci Sl Quran dan Hadits Shahih :
  1. Firman Allah Swt: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)
  2. Firman Allah Swt: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16).
  3. Firman Allah Swt: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman. ” (Yunus: 57).
  4. Sabda Rasulullah Saw: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
  5. Dari An-Nawwas bin Sam’an ra. katanya: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur’an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini.” (HR, Muslim).
  6. Dari Utsman bin Affan ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
  7. Dari Ibnu Mas’ud ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
  8. Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash ra, bahwa Nabi Saw bersabda: “Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
  9. Dari Aisyah ra, katanya: Nabi Saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
  10. 10. Dari Ibnu Umar ra, Nabi Saw bersabda: “Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469).
  11. 11. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
  12. Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda: Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur’an, “Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. “ (HR Tirmidzi)
  13. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Dia (Al-Qur’a) bertanya, “apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, “aku tidak mengenalmu!”. Al-Qur’an berkata, “Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur’an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, “Karena apa kami engkau kenakan?”. Ada yang menjawab: “Karena peranan Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,”Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad).
  14. Dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).
  15. Dari An Nawas bin Sam’an, Rasulullah Saw bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim).
  16. Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda, ” Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)
  17. Dari Aisyah ra, Raslullah Saw bersabda, ”Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat. Sedang siapa orang yang megap-megap dan berat jika membaca Al-Qur’an, mendapat pahala 2 kali lipat.” (HR Bukhari, Muslim)
  18. Dari Al Barra bin Azib ra, “ Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada Nabi Saw, maka bersabda nabi Saw, ”Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur’an itu.” (HR Bukhori dan Muslim).
Setelah kita mengetahui betapa banyak keutamaan membaca Al Quran, maka mulai hari ini, mari kita perbanyak membaca Al Quran. Dan bila ada dari kita yang mungkin masih belum lancar membaca Al Quran , jangan patah semangat, lihatlah hadits  No.9, teruslah membacanya, karena Al Quran yang yang kita baca, akan menemui kita dihari kiamat kelak, lihatlah sabda Rasulullah Saw, pada hadits No. 13 diatas. Selain itu Al Quran yang kita baca,  akan memberikan syafaat untuk kita (hadits No. 4).
Dewi Yana

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Walgreens Printable Coupons