(Gambar dari: musyafucino.wordpress.com)
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat
demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. Yaitu ubun-ubun orang yang
mendustakan lagi durhaka” (QS. Al Alaq : 15-16)
Nasiyah dalam Qur’an sering diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan padanan “ubun-ubun”. Ubun-ubun sering diasosiasikan
sebagai bagian depan kepala manusia. Namun, apakah benar
nasiyah yang
dimaksud adalah ubun-ubun yang selama ini kita kenal? Beberapa fenomena
menunjukkan, manusia yang ubun-ubunnya penyok akibat kecelakaan masih
tetap bertahan hidup sampai sekarang. Atau, jika kita melukai ubun-ubun
singa, yang ada hanya tergoreslah kepalanya. Singa masih mampu bertahan
hidup.
Kerancuan mengenai terjemahan
nasiyah ini menjadi bahasan
Diskusi Tafsir Ilmiah pada Jumat lalu. Dr. Sony Heru Sumarsono dari
Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) ITB menjadi pembahas utama untuk
memaknai
nasiyah dalam sudut pandang Biologi. Turut hadir
pula Ustadz Aceng dari Divisi Pelayanan Dakwah (DPD) Salman ITB sebagai
peninjau dari segi bahasa.
Dari segi bahasa, Ustadz Aceng menekankan pentingnya mengkaji makna
haraf (kata depan) yang mengawali sebuah kata. Kemudian, Aceng menjelaskan kata “
ba” sebagai kata depan yang mendahului kata
nasiyah (“bin nasiyah”) mengisyaratkan makna
nasiyah sebagai pusat kesadaran manusia.
Makna yang bisa mendukung bahwa
nasiyah ini mempunyai pusat kesadaran ialah
musohabah
yang artinya disertai. Dari makna ini, dapat disimpulkan bahwa apabila
anggota badan manusia berbuat dosa, maka jidat ikut disiksa. Kemudian,
apabila mkana ba diberi arti ta’wid, yaitu pengganti, maka makna ini
mengisyaratkan apabila ketika nggota tubuh berbuat dosa, maka yang akan
menerima siksaannya adalah jidat. Jadi, jidat bertanggung jawab
terhadap perbuatan dosa yang diperbuat anggota badan lainnya.
Berdasarkan makna di atas, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa
nasiyah itulah yang menjadi pusat perintah dari semua organ tubuh.
Kepala Merupakan Tali Kematian?
Dalam
slide presentasinya, Sony Heru memaparkan ayat-ayat
dalam tiga surat mengenai ubun-ubun. Di antaranya adalah Surat Al-‘Alaq
(96): 15-16 (Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat
demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang
mendustakan lagi durhaka), Surat Ar-Rahmaan (55): 41 (Orang-orang yang
berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan
kaki mereka), dan Surat Hud (11): 56 (Sesungguhnya aku bertawakkal
kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun,
melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di
atas jalan yang lurus ).
Apabila merujuk pada Surat Al-‘Alaq dan Surat Ar-Rahman, Allah
menarik serta memegang ubun-ubun orang-orang yang durhaka dan berdosa.
Namun, jika merujuk pada Surat Hud, dijelaskan tidak ada suatu binatang
melata pun, melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Mengacu pada
footnote Qur’an
terjemahan miliknya, Sony menganggap binatang melata adalah segenap
makhluk Allah yang bernyawa. Jadi, Allah memegang ubun-ubun semua
makhluk bernyawa, tak terkecuali yang manusia yang beriman atau pun
durhaka.
Jika mendengar
term ubun-ubun, kebanyakan orang Indonesia
biasanya membayangkan sebuah area di atas permukaan kepala bagian
depan. Dalam istilah biologi, area tersebut dinamakan
fontanel anterior. Pada saat bayi lahir, tulang tengkorak—termasuk
fontanel anterior
saling tumpang tindih dengan tulang-tulang tengkorak lain sehingga
ukuran kepalanya kecil. Namun, jika telah dewasa, tulang-tulang
tersebut saling merenggangkan diri sehingga ukuran kepala pun besar.
Ubun-ubun orang dewasa merujuk pada pengertian ubun-ubun pada saat bayi.
Terdapat kecenderungan, manusia menganggap bahwa ubun-ubun adalah
kelemahan dari tubuh kita. Oleh karena itu, manusia menganggap kepala
harus dilindungi, baik dengan memakai pengikat kepala yang sederhana,
blangkon, maupun helm. Jadi, jika kepala kita dipotong, ditembak, atau
digantung, sudah dapat dipastikan bahwa kita akan mati.
Pertanyaannya, apakah orang yang ubun-ubun di kepalanya penyok
karena kecelakaan masih bisa hidup? Steven Cloak dari Inggris, walaupun
kepala bagian depannya penyok rupanya masih tetap dapat hidup. Cloak,
terluka setelah dia dipukul oleh temannya yang mabuk bir. Kepala Cloak
pun mengalami luka serius dan harus mendapat banyak jahitan. Dokter
bedah harus bekerja kerjas untuk menyusun keping demi keping tulang
tengkorak Cloak. Cloak sembuh. Namun jidatnya membentuk lubang besar.
Ajaibnya, Cloak masih tetap hidup. Allah SWT masih belum mencabut
“ubun-ubunnya”.
Kematian Bisa Datang dari Sebab Apapun
Kemudian, Sony mencontohkan singa yang memiliki surai yang
melingkari kepalanya. Bukan tanpa alasan Allah menciptakan surai
tersebut di area yang spesifik pada singa. Pada bagian leher, surai
bulu tumbuh dengan lebat. Hal ini dikarenakan karena leher merupakan
bagian vital dari tubuh singa yang bisa menyebabkan kematian jika
terluka. Jika singa bertarung, lawannya sulit menggigit leher karena
terhalang surai lebat yang tumbuh di sekitar lehernya. Namun, apabila
bagian kepala sang singa diserang, ia hanya akan mengalami luka-luka.
Rupanya, terdapat kelemahan makhluk hidup yang lain selain kepala.
Urat leher. Pembuluh darah pada leher berfungsi untuk mensuplai darah
ke otak. Jika leher kita terluka, proses penyaluran darah ke otak akan
terhambat. Nutrisi bagi otak pun tidak ada.
Sony berpendapat, jika “ubun-ubun” mengarah pada hubungan makhluk
hidup dengan Allah, tampaknya “ubun-ubun” bermakna “tali kematian”.
Lokasinya tidak pasti. Menurut Sony mungkin saja “ubun-ubun” sebagai
tali kematian itu memang letaknya berada di kepala. Namun, kurang tepat
jika letaknya berada di depan kepala seperti yang selama ini sudah
banyak diamini. Sony meyakini jika
medulla oblongata merupakan bagian otak paling mungkin untuk dikatai sebagai “tali kematian”.
Medulla oblongata
ialah salah satu bagian dari batang otak yang merupakan titik awal
saraf tulang belakang. Bagian ini mengontrol fungsi otomatis otak,
seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
Definisi dari kematian sendiri, yang telah disepakati dalam ilmu
kedokteran adalah ketidakadaan sinyal listrik pada otak. Menurut Sony,
orang yang mati suri kemungkinan masih memiliki
medulla oblongata
yang berfungsi walaupun anggota tubuh lain tidak. Jika kepala manusia
diputus, koordinasi antara otak dan organ-organ tubuh lain pun ikut
putus. Otak pun tak bisa lama sendiri hidup karena otak memerlukan
suplai oksigen melalui darah dari jantung. Jika jantung turut berhenti
berdenyut, maka lama kelamaan otak akan kekurangan oksigen dan mati.
Beberapa hewan memiliki keunggulan tertentu. Keunggulan tersebut
adalah ketika hewan tersebut dipotong kepalanya, seluruh anggota
tubuhnya masih tetap hidup dalam waktu yang lebih lama dibanding
manusia. Contohnya
entog. Jika
entog disembelih dan
sayapnya tidak ditali, akan sangat memungkinkan bahwa ia akan terbang
tanpa kepala walaupun lama-lama kelak akan mati. Mereka memiliki
ganglion-ganglion yang saling berikatan satu sama lain.
Ganglion
dapat mengendalikan organ-organ tubuh bagian bawah tanpa bantuan kepala
hewan tersebut. Jadi, Sony menyimpulkan, tali kematian hewan-hewan
tersebut mungkin terletak pada
ganglion.
Walaupun Sony cenderung menyimpulkan bahwa “ubun-ubun” alias tali kematian manusia terletak pada
medulla oblongata,
sebenarnya terdapat fenomena kematian lain yang bukan disebabkan oleh
non-fungsi dari otak. Terdapat penyebab lain yang dapat mengakibatkan
manusia mati. Misalnya, ginjalnya rusak atau paru-parunya tidak
berfungsi lagi. Sony kemudian mengambil contoh kasus wafatnya Menteri
Kesehatan beberapa waktu yang lalu, Endang Rahayu. Baik jantung,
ginjal, serta otak dari Endang masih bisa berfungsi. Endang bahkan
sempat membuat email beberapa saat sebelum kematiannya. Paru-parunya
lah yang tidak berfungsi sedemikian mestinya.
Hal tersebut menunjukkan betapa kuasanya Allah mencabut nyawa kita
dengan beragam rupa. Yang jelas, Sony berpendapat “ubun-ubun” merupakan
tali nyawa kita dengan Allah. Namun, Allah lebih berkuasa atas
penentuan nasib kita. Apakah Allah akan mencabut nyawa kita dengan
mematikan fungsi otak, fungsi jantung, atau fungsi ginjal—semuanya
terserah padaNya.
Bukan Satu Organ Tubuh
Diskusi tafsir ilmiah ini kemudian menyimpulkan,
nasiyah (“ubun-ubun”) fungsinya mirip dengan
qalbu.
Qalbu
(sering diterjemahkan sebagai “hati”) bukan satu organ tubuh yang
bekerja sama satu sama lain sehingga manusia bisa merasakan sesuatu.
Qalbu dalam konteks alquranan bukanlah jantung (
heart) ataupun hati (
liver), namun suatu sistem perasaan.
Begitu pun dengan “ubun-ubun” yang melibatkan seluruh organ tubuh.
Orang lain bisa saja memegang kepala Anda, tetapi ia tidak bisa
memegang tali kematian Anda. Hal ini karena ia tidak tahu letak tali
kematian Anda. Bisa saja Allah tarik tali kematian manusia lewat
jantung yang berhenti berdetak. Sehingga, perdebatan mengenai posisi
“ubun-ubun” seharusnya tidak perlu kian berlarut. Tuhan dapat mematikan
kita dengan cara apapun.
Sony berpendapat, pelajaran yang dapat kita ambil setelah menelaah
ayat mengenai “ubun-ubun” adalah sadar apabila hidup kita selalu
diawasi Tuhan. Allah dapat menarik “ubun-ubun” Anda kapan saja. Anda
tidak memiliki waktu untuk mengelak. Sepatutnya, kita dapat mengambil
pelajaran dari QS. Al-Mu’minuun ayat 99-100. Dalam dua ayat tersebut,
kaum musyrikin yang sudah dihisab amal perbuatannya meminta agar
dikembalikan kembali ke dunia. Tujuannya, tentu untuk berbuat saleh
setelah dikembalikan ke dunia. Namun, Allah tidak memberi kesempatan
macam itu.
“Anda tidak dapat menerka berapa lama Anda hidup di muka bumi ini.
Jadi berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Asal diimbangi dengan
kecerdikan sehingga Anda tidak mudah ditipu orang,” pungkas Sony.***
Posted: 11 Jun 2012 11:47 PM PDT
Tafsir Al-’Alaq (1): Menerka Tali Kematian from
Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami